Rinai hujan selalu menjadi sebuah tema di banyak cerita cinta. Jatuhnya air menapakki bumi membuat semua terasa berebeda. Mneghilangkan semua rasa suntuk. Entah mengapa hujan menjadi banyak judul bagi sejuta orang yang sedang patah hati ataupun kasmaran. Sejuk dan indah pas untuk menangis. Menatap tajam rinai hujan, aku terlalu banyak kenangan patah hati. Berdiri ditengah lapangan dan merasakan indahnya hujan, aku tersenyum. Menangis dalam diam, kurasakan semua. Semua ke-patahhan hatiku hilang bersama sang hujan. Sejuk dan mempesona.
Namun, kemarin ketika aku berkiprah bersama temanku bermain tentang apa yan terjadi jika hujan atau tidak. Semua berubah, maka ketika hujan itu hadir, ketika itu juga aku memastikan bahwa saat inilah aku jatuh cinta kepadanya. Ku teguhkan hatiku untuk mencintainya. Tersenyum renyah kepada sang mendung, aku tertawa bahagia. Aku meyakini sesuatu yang cukup besar, bahwa dia membalas perasaanku. Apakah ini salah? aku rasa tidak ada yang salah dalam hal berkhayal.
Semua yang khayal akan menjadi nyata, dan sebagai titik tempuh gambaran kehidupanmu dimasa yang akan datang. Ingat ini bukan tangisan tapi ini adalah sebuah tawa. Aku tidak meminta secercah harapan yang mubazir, namun aku mencapai harapan yang sudah ada jawabannya. Dalam rinai hujan kurasakan semuanya, semua dan tak ada yang terlewatkan. Indah dan memesona. :)
Dalam rinai hujan pula, aku berikrar bahwa ia adalah orang yang aku pilih untuk kucintai. Aku tidak akan menunjukkan apa-apa kepadanya bahwa aku mencintainya. Namun, aku hanya menuntut dalam do'a.
Namun, kemarin ketika aku berkiprah bersama temanku bermain tentang apa yan terjadi jika hujan atau tidak. Semua berubah, maka ketika hujan itu hadir, ketika itu juga aku memastikan bahwa saat inilah aku jatuh cinta kepadanya. Ku teguhkan hatiku untuk mencintainya. Tersenyum renyah kepada sang mendung, aku tertawa bahagia. Aku meyakini sesuatu yang cukup besar, bahwa dia membalas perasaanku. Apakah ini salah? aku rasa tidak ada yang salah dalam hal berkhayal.
Semua yang khayal akan menjadi nyata, dan sebagai titik tempuh gambaran kehidupanmu dimasa yang akan datang. Ingat ini bukan tangisan tapi ini adalah sebuah tawa. Aku tidak meminta secercah harapan yang mubazir, namun aku mencapai harapan yang sudah ada jawabannya. Dalam rinai hujan kurasakan semuanya, semua dan tak ada yang terlewatkan. Indah dan memesona. :)
Dalam rinai hujan pula, aku berikrar bahwa ia adalah orang yang aku pilih untuk kucintai. Aku tidak akan menunjukkan apa-apa kepadanya bahwa aku mencintainya. Namun, aku hanya menuntut dalam do'a.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar